Jumat, 14 November 2014

PENGUKURAN

A.    Materi

Pengukuran adalah sebuah kegiatan menggunakan alat dengan tujuan mengetahui nilai suatu besaran. Pengukuran dibedakan menjadi 2, yaitu pengukuran langsung dan peng- ukuran tidak langsung.
1.      Pengukuran langsung, membandingkan nilai besaran yang diukur dengan besaran standar yang diterima sebagai satuan.
2.      Pengukuran tidak langsung, mengukur suatu besaran dengan cara mengukur besaran lain.
Semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran dinamakan angka penting atau angka tidak eksak. Angka penting terdiri atas angka pasti dan angka ragu-ragu atau taksiran. Angka 1; 8 dan 1; 5 pada contoh penggunaan mistar merupakan angka pasti karena ditunjukkan oleh skala. Sedangkan angka 5 dan 0 disebut angka ragu- ragu karena hasil menaksir.
    1.      Aturan Penulisan Angka Penting
Aturan-aturan angka penting.a. Semua angka bukan nol adalah angka penting Contoh: 47,5   cm memiliki 3 angka penting. 41,27 gram memiliki 4 angka penting.
b. Angka nol yang diapit angka bukan nol termasuk angka penting Contoh: 1,023 gram memiliki 4 angka penting. 205 km memiliki 3 angka penting.
c. Angka nol yang terletak di sebelah kiri angka bukan nol tidak termasuk angka penting Contoh: 0,022 gram memiliki 2 angka penting. 0,105 gram memiliki 3 angka penting.
d. Angka nol di sebelah kanan angka bukan nol bukan angka penting, kecuali angka nol di sebelah kanan angka yang diberi tanda khusus (biasanya garis bawah) termasuk angka penting
Contoh:
1000 kg           memiliki 1 angka penting.
1000 km          memiliki 2 angka penting.
Berhitung Dengan Angka Penting
a.      Aturan pembulatan
Jika angka pertama setelah angka yang akan dipertahankan kurang dari 5, maka angka yang dipertahankan tetap, sedangkan angka yang di sebelah kanannya dihilangkan.
Contoh:
4 2,  6  1 3 dibulatkan menjadi tiga angka penting, hasil pembulatannya 42,6
1 2 , 4 1 2 dibulatkan menjadi dua angka penting, hasil pembulatannya 12
Jika angka pertama setelah angka yang akan dipertahankan lebih dari atau sama dengan 5, maka angka yang akan dipertahankan bertambah 1, sedang- kan angka di sebelah kanannya dihilangkan.
Contoh:1 7 , 3 6 2              dibulatkan menjadi tiga angka penting, hasil pembulatannya 17,4
2 1 , 0 1 7 2           dibulatkan menjadi tiga angka penting, hasil pembulatannya 21,0
1 2 8 1                   dibulatkan menjadi dua angka penting, hasil pembulatannya 1300
b.      Hasil operasi matematis angka penting
1.      Operasi penjumlahan dan pengurangan
Dalam melakukan operasi penjumlahan atau pengurangan, maka hasilnya hanay boleh mengandung satu angka taksiran (angka terakhir dari suatu bilangan penting).Contoh 1:35,572                   2 angka taksiran  2,2626 +            8 angka taksiran37,8346                4 dan 6 merupakan angka taksiran, sehingga hasil penjumlahan ditulis 37,835 disesuaikan dengan atuan pembulatan.Contoh 2:385,617                 7 angka taksiran  13,2     -              2 angka taksiran372,417                4 dan 7 merupakan angka taksiran, sehingga hasil penjumlahan ditulis 372,42 disesuaikan dengan atuan pembulatan.2.      Operasi perkalian dan pembagianDalam operasi perkalian atau pembagian, maka hasilnya hanya boleh memiliki angka penting sebanyak bilangan yang jumlah angka pentingnya paling sedikit.Contoh 1: 34,231                   mengandung lima angka penting  0,250   x              mengandung tiga angka penting8,557750Penulisan hasil perkalian hanya boleh mengandung tiga angka penting, sehingga hasil perkalian 8,557750 ditulis 8,56 (tiga angka penting).Contoh 2:46,532                   mengandung lima angka penting200      :                  mengandung satu angka penting0,2326Hasil pembahian hanya boleh mengandung satu angka penting, sehingga hasil perkalian 0,2326 ditulis 0,2.

   2.      Ketelitian dan Presisi
Dalam bidang ilmu pengetahuan,industri rekayasa, dan statistik,akurasi[1] dari suatu sistem pengukuran adalah tingkat kedekatan pengukuran kuantitas terhadap nilai yang sebenarnya. Kepresisian dari suatu sistem pengukuran, disebut juga reproduktifitas (bahasa Inggris: reproducibility) atau pengulanganbahasa Inggris: repeatability, adalah sejauh mana pengulangan pengukuran dalam kondisi yang tidak berubah mendapatkan hasil yang sama.
Sebuah sistem pengukuran dapat akurat dan tepat, atau akurat tetapi tidak tepat, atau tepat tetapi tidak akurat atau tidak tepat dan tidak akurat.

    3.      Kesalahan Pengukuran
Hasil pengukuran tidak ada yang eksak, selalu mengandung kesalahan. Kesalahan-kesalahan ini tidak mungkin dihilangkan, tetapi kesalahan dalam pengukuran dapat diminimalkan. Kesalahan yang terjadi dalam pengukuran dapat dikelompokkan sebagai berikut.                    i.               Kesalahan Sistematis
Kesalahan sistematik adalah kesalahan yang tetap terjadi. Faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan sistematik sebagai berikut.a.          Kesalahan alat Kesalahan kalibrasi alat dan interaksi alat dengan lingkungan
b.         Kesalahan perorangan Jika pada saat membaca skala mata tidak tegak lurus dengan skala yang dibaca, hasil pembacaan mengandung kesalahan paralaks.
c.          Kondisi percobaan Kondisi percobaan tidak sama dengan kondisi saat alat di kalibrasi.
d.         Teknik yang kurang sempurna Teknologi atau langkah percobaan terlalu sederhana, sehingga banyak faktor yang mempengaruhi percobaan tidak terukur
                  ii.               Kesalahan Tindakan
Kesalahan tindakan umumnya disebabkan ketidaktelitian peneliti. Misalnya mengukur waktu 10 ayunan, tidak disadari baru 9 ayunan sudah selesai. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar